Senin, 02 Desember 2013

BELAJAR MENGANALISIS CERPEN " SANG PUJANGGA "

" SANG PUJANGGA "

oleh : alexander ilham
SMK N 1 MAJAULENG

1. KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan terimakasih dan rasa syukur kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan taufiq dan hidayahnya sehingga saya telah dapat menyajikan sebuah makalah Pengantar Pengkajian Kesusastraan.
Makalah ini berisi bagaimana cara menganalisis tentang penokohan, latar, dan alur pada cerpen dengan baik. Dengan demikian sekiranya makalah ini akan lebih mudah dipelajari oleh siapa saja yang ingin menganalisis cerpen.
Semoga pula makalah ini dapat dijadikan pedoman bagi para pengajar, yang akan mengjarkan tentang tata cara menganalisis penokohan, latar, dan alur pada cerpen dan novel, kepada siswa-siswinya.
Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kelemahannya. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat saya hargai untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini sampai dengan selesainya makalah ini. Kepada Allah swt, mudah-mudahan senantiasa menunjukkan jalan kebenaran bagi kita sekalian, dan senantiasa memberikan berkah, rahmat dan keridlaan-Nya. Amin.



Anabanua 26, November 2013

Muhammad Ilham

Penyusun













DAFTAR ISI


KATA PEGANTAR 1                                                                               
DAFTAR ISI 2
BAB 1 TINJAUAN ATAS UNSUR INTRINSIK 3
1. Pembahasan 3
a. Latar Cerpen 3
b. Alur cerpen 4
c. Penokohan cerpen 6
d. Titik Pengisahan 7
BAB III PENUTUP 8
1. Kesimpulan 8
a. Tema 8
b. Amanat 8
c. Latar Cerpen 8
d. Alur Cepen 8
e. Penokohan Cerpen 8
f. Titik Pengisahan 8
2. Saran 8
3. Lampiran 9
a. Cerpen 9
Daftar Pustaka 15
















BAB I
TINJAUAN ATAS UNSUR INTRINSIK
1. Pembahasan
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa latar, alur, penokohan, titik pengisahan, dan gaya. Tiga dari lima unsur ini sebelumnya sudah dijelaskan pada bab satu tetapi disini akan diperjelas lagi secara mendalam. Unsur intrinsik cerpen Sang Pengembara itu sebagai berikut:
a. Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
1. Latar Tempat
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini bermacam-macam. Latar tempat tersebet sebagai berikut;
a. Rumah mertua tempat ia mengadakan pernikahan, dapat kita lihat sebagai berikut;
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham. (halaman 1)
b. Acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota tempat pertamakalinya mereka bertemu, dapat kita lihat sebagai berikut;
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: “Kalau mau sama aku, harus serius…,” katanya. (halaman 3)
c. Di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Tempat lelaki ini menenangkan dirinya dan berdoa kepada Sang Pencipta, dapat kita lihat sebagai berikut;
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. “Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga,” (halaman 3)
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa. (halaman 5)
2. Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut :
Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham. (halaman 1/paragraf 2)
Meskipun begitu, ada juga yang jelas-jelas menyebutkan soal waktu, dan dapat kita lihat pada halaman paragraf 5, sebagai berikut;
Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
“Aku suamimu bukan?” tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. “Nanti dijemput jam berapa?” tanyaku lagi. (halaman 4)

b. Alur (plot)
Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki struktur. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut.
1. Bagian Awal
Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagian, yaitu bagian eksposisi, yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang perasaan seorang pria yang menjadi baru menikah, seperti yang diungkapkan pada data berikut :
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham. (halaman 1/paragraf 1-2)
Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas (ketidakstabilan), yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan.
Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala permasalahannya. Perhatikan data berikut :
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
“Aku ingin sendiri,” katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
“Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati,” kataku
mengingatkan.
“Hasyaahhhh…..” Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip. (halaman 4/paragraf 1)
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan. (halaman 4)
Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan terbuka. Akan tetapi karena informasi ini belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan, mengapa istrinya tidak mau lagi diantar dan dijemput dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita.
2. Bagian Tengah
Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan suatu pengembangan cerita tetapi bagian tengah tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. Justru, bagian tengah dimulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul, seperti yang disebutkan dalam bagian awal. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan suatu konplik, yang tidak dapat diketahui kebenarannya. Data untuk ini seperti berikut:
“Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi,” ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.
“Ini hanya sementara…,” katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. “Sementara…,” itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu. (halaman 5)
3. Bagian Akhir
Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Menarik karena adanya kejutan (surprise). Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya, yaitu disaat si suami mendapatkan sms yang pending setelah empat minggu istrinya bersikap aneh, Data berikut menggambarkan hal ini.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
“Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!” begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***(halaman 5)
Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan pertanyaan, benarkah ini suata kejutan atau mungkin hanya penyesalan si istri karena selama ini ia telah berbuat kesalahan.? Jika struktur alurnya seperti di atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur maju mundur atau alur flasback . Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah sebelumnya, yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan.

c. Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Antoni menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut.
1. Tokoh Aku
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari mulutnya kita bisa mendengar kisah si suami atau pria yang amat ingin sebuah kebahagiaan dari pada kekayaan. Pengarang menggambarkan tokoh ini setia. Datanya seperti berikut.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu. (halaman 1)
2. Si istri
Tokoh ini memiliki suatu kepribadiaan yang mantap dan matang, hal tersebut dapat kita lihat pada data sebagai berikut;
“Kalau mau sama aku, harus serius…,” katanya (halaman 3)
“Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah,” katanya ketika itu.(halaman 4)

d. Titik Pengisahan
Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. Maksudnya apakah, pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita.
Di dalam cerpen Sang Pengembara agaknya Antoni memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada bagian awal cerita.
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.


BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Sang Pengembara karya Antoni ini, memang sebuah cerpen yang menarik dan menggugah hati pembacanya. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik pada cerpennya tersebet. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.
Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema cerpen ini yaitu tentang perjalan seorang yang cinta dan setia pada keluarga
b. Amanat
Amanat cerpen ini adalah :
1) jangan cepat marah kalau kalau ada masalah dalam keluarga atau dalam berhubungan,
2) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan
3) jangan egois.
c. Latar
Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat dan latar waktu
d. Alur
Alur cerpen ini adalah maju mundur karena ceritanya mengisahkan kehidupannya mendatang dan kisahnya dimasa lalu. Sedangkan strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai muncul di tengah-tengah cerita.
e. Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini ada dua orang, yaitu tokoh Aku, dan si istri.
1) Tokoh Aku berwatak selalu sabar dalam menghadapi sesuatu pada rumah tangganya
2) Istri memiliki watak yang susah yang yang sama seperti tokoh utama namun susah untuk diterka.
f. Titik Pengisahan
Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat disampaikan yaitu sebagaimana yang diceritaka pada cerpen ini, selagi kita mampu bersabar dalam menjalani kerasnya hidup dalam rumah tangga, atau dalam berpacara kita harus tetap bersabar dan hindari yang namanya permusuhan apalagi perceraian
Cerpen Sang Pengembara
Karya : Antoni

CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.
Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.
Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk dari pintu depan. “Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…,” gumamku dalam batin.
Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.
Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.
Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.
Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.
Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera penderitaan hidup berkepanjangan.
Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.
Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.
Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. “Mau ngopi lagi, Mas?” tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. “Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga,” begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: “Kalau mau sama aku, harus serius…,” katanya.
Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam “bertabur bintang” itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. “Liya gitu loh….,” katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.
Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
“Aku pengin punya anak 9,” kataku.
“Dua saja….Capek,” jawabnya sambil menepuki perutnya.
Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu merindukan setiap menitnya.
Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
“Aku ingin sendiri,” katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
“Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati,” kataku
mengingatkan.
“Hasyaahhhh…..” Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.
Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. “Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini…..” Mimik mukanya agak berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.
Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?
“Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah,” katanya ketika itu.
Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
“Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin,” kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
“Aku suamimu bukan?” tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. “Nanti dijemput jam berapa?” tanyaku lagi.
“Jam empat sore. Mundur satu jam,” jawabnya, sambil bergegas turun.
Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.
“Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi,” ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.
Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.
“Ini hanya sementara…,” katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. “Sementara…,” itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.
Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara itu!
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
“Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!” begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***


























DAFTAR PUSTAKA`
Badudu, J.S. 1979. Sari Kesusasteraan Indonesia Jilid 2. Bandung: Pustaka Prima.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Esten, Mursal. 1984. Kesusastraan: Pengantar teori dan sejarah. Bandung: Angkasa.
Koentjaraningrat. 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat, edisi ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Prima.
Rosenthall. 1958. Unsur Unsur Intrinsik Sastra. Bandung: Pustaka Prima.
Sayuti, Suminto A.2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Jogjakarta: Gama Media.
Suroto.1989. Teori dan Pembimbingan Apresiasi Sastra Indonesia untuk SMU. Jakarta : Erlangga.
Tarigan, Henri Guntur.1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar