" SANG PUJANGGA "
oleh : alexander ilham
SMK N 1 MAJAULENG
1. KATA
PENGANTAR
Dengan mengucapkan terimakasih dan rasa syukur
kehadirat Allah swt. Yang telah melimpahkan taufiq dan hidayahnya sehingga saya
telah dapat menyajikan sebuah makalah Pengantar Pengkajian Kesusastraan.
Makalah ini berisi bagaimana cara menganalisis tentang
penokohan, latar, dan alur pada cerpen dengan baik. Dengan demikian sekiranya
makalah ini akan lebih mudah dipelajari oleh siapa saja yang ingin menganalisis
cerpen.
Semoga pula makalah ini dapat dijadikan pedoman bagi
para pengajar, yang akan mengjarkan tentang tata cara menganalisis penokohan,
latar, dan alur pada cerpen dan novel, kepada siswa-siswinya.
Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih
banyak kelemahannya. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak
sangat saya hargai untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini sampai dengan selesainya
makalah ini. Kepada Allah swt, mudah-mudahan senantiasa menunjukkan jalan kebenaran
bagi kita sekalian, dan senantiasa memberikan berkah, rahmat dan keridlaan-Nya.
Amin.
Anabanua
26, November 2013
Muhammad
Ilham
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PEGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB 1
TINJAUAN ATAS UNSUR INTRINSIK 3
1.
Pembahasan 3
a. Latar
Cerpen 3
b. Alur
cerpen 4
c. Penokohan
cerpen 6
d. Titik
Pengisahan 7
BAB III
PENUTUP 8
1.
Kesimpulan 8
a. Tema 8
b. Amanat 8
c. Latar
Cerpen 8
d. Alur
Cepen 8
e. Penokohan
Cerpen 8
f. Titik
Pengisahan 8
2. Saran 8
3. Lampiran 9
a. Cerpen 9
Daftar
Pustaka 15
BAB I
TINJAUAN
ATAS UNSUR INTRINSIK
1. Pembahasan
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk
penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa latar, alur, penokohan, titik
pengisahan, dan gaya. Tiga dari lima unsur ini sebelumnya sudah dijelaskan pada
bab satu tetapi disini akan diperjelas lagi secara mendalam. Unsur intrinsik
cerpen Sang Pengembara itu sebagai berikut:
a. Latar
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala
keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana
terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat;
latar waktu; dan latar sosial.
1. Latar Tempat
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini
dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya.
Latar tempat yang ada dalam cerpen ini bermacam-macam. Latar tempat tersebet
sebagai berikut;
a. Rumah mertua tempat ia mengadakan pernikahan, dapat
kita lihat sebagai berikut;
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu
mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan
petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku
memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
(halaman 1)
b. Acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota
tempat pertamakalinya mereka bertemu, dapat kita lihat sebagai berikut;
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya
sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu
kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja,
di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya
berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun,
dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: “Kalau mau sama aku, harus serius…,”
katanya. (halaman 3)
c. Di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di
pinggir-pinggir pantai. Tempat lelaki ini menenangkan dirinya dan berdoa kepada
Sang Pencipta, dapat kita lihat sebagai berikut;
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang
aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum
bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di
atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa,
aku sampaikan permohonan keramatku itu. “Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh
istri dan sebuah keluarga,” (halaman 3)
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan
orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di
pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku
dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak
mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di
belakangku, mengikutiku berdoa. (halaman 5)
2. Latar Waktu
Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada
yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada
latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut :
Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku
memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
(halaman 1/paragraf 2)
Meskipun begitu, ada juga yang jelas-jelas menyebutkan
soal waktu, dan dapat kita lihat pada halaman paragraf 5, sebagai berikut;
Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
“Aku suamimu bukan?” tanyaku pelan, sambil kusodorkan
tangan kananku.
Ia pun menciumnya. “Nanti dijemput jam berapa?”
tanyaku lagi. (halaman 4)
b. Alur (plot)
Alur menurut Suminto A. Sayuti (2000:31) diartikan
sebagai peristiwa-peristiwa yang diceritakan dengan panjang lebar dalam suatu
rangkaian tertentu dan berdasarkan hubungan-hubungan konsolitas itu memiliki
struktur. Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian
tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan
seperti berikut.
1. Bagian Awal
Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen
ini terbagi atas dua bagian, yaitu bagian eksposisi, yang menjelaskan/
memberitahukan informasi yang
diperlukan dalam memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi cerita dalam cerpen
ini berupa penjelasan tentang perasaan seorang pria yang menjadi baru menikah,
seperti yang diungkapkan pada data berikut :
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan
ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang,
menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke
pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali
pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan
tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa
setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak
ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis
mendung menggantung.
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu
mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan
petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku
memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
(halaman 1/paragraf 1-2)
Dan yang kedua adalah sebagai instabilitas
(ketidakstabilan), yaitu bagian yang didalamnya terdapat keterbukaan.
Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan
terbuka dengan segala permasalahannya. Perhatikan data berikut :
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api.
Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita
sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
“Aku ingin sendiri,” katanya pelan, tapi kurasakan
seperti halilintar.
Menggelegar.
“Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba
hati-hati,” kataku
mengingatkan.
“Hasyaahhhh…..” Mukanya jadi cemberut dan bibirnya
jadi tambah lancip. (halaman 4/paragraf 1)
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah,
kuakui, dia tetap saja menggemaskan. (halaman 4)
Berdasarkan data ini tampak jelas bahwa yang dimaksud
cerita mulai bergerak dan terbuka. Akan tetapi karena informasi ini belum
tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan, mengapa istrinya tidak mau lagi diantar
dan dijemput dan bagaimana hal itu bisa terjadi ? sehingga
ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita.
2. Bagian
Tengah
Meskipun ketidakstabilan dalam cerita memunculkan
suatu pengembangan cerita tetapi bagian tengah tidak dimulai dari
ketidakstabilan itu. Justru, bagian tengah dimulai dengan jawaban atas
pertanyaan yang muncul, seperti yang disebutkan dalam bagian awal. Jawaban itu
sedikitnya menggambarkan suatu konplik, yang tidak dapat diketahui
kebenarannya. Data untuk ini seperti berikut:
“Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar
jemput lagi,” ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku.
Tampak jengkel.
“Ini hanya sementara…,” katanya ketika aku nekat
menemuinya, di siang yang terik. “Sementara…,” itulah kata-kata yang aku
jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha
meyakini janjinya itu. (halaman 5)
3. Bagian Akhir
Bagian terakhir cerita ini ternyata menarik. Menarik
karena adanya kejutan (surprise). Kejutannya itu terletak pemecahan masalahnya,
yaitu disaat si suami mendapatkan sms yang pending setelah empat minggu
istrinya bersikap aneh, Data berikut menggambarkan hal ini.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku
memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku
datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete
mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak
mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
“Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama
Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!” begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu
lalu. ***(halaman 5)
Penyelesaian yang penuh kejutan ini agaknya menyisakan
pertanyaan, benarkah ini suata kejutan atau mungkin hanya penyesalan si istri
karena selama ini ia telah berbuat kesalahan.? Jika struktur alurnya seperti di
atas maka alur cerpen ini dikelompokkan ke dalam alur maju mundur atau alur
flasback . Dikatakan demikian karena benar-benar bertumpu pada kisah
sebelumnya, yang oleh tokoh Aku kisah itu diceritakan.
c. Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana
pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Antoni
menampilkan tokoh-tokohnya sebagai berikut.
1. Tokoh Aku
Tokoh ini begitu berperan dalam cerpen ini. Dari
mulutnya kita bisa mendengar kisah si suami atau pria yang amat ingin sebuah
kebahagiaan dari pada kekayaan. Pengarang menggambarkan tokoh ini setia.
Datanya seperti berikut.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali
pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan
tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa
setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak
ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis
mendung menggantung.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku
memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku
datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu. (halaman 1)
2. Si istri
Tokoh ini memiliki suatu kepribadiaan yang mantap dan
matang, hal tersebut dapat kita lihat pada data sebagai berikut;
“Kalau mau sama aku, harus serius…,” katanya (halaman
3)
“Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama
ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah,” katanya ketika
itu.(halaman 4)
d. Titik
Pengisahan
Yang dimaksud dengan titik pengisahan yaitu
kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. Maksudnya apakah, pengarang
ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri
di luar cerita.
Di dalam cerpen Sang Pengembara agaknya Antoni
memposisikan dirinya dalam cerita ini sebagi tokoh utama atau akuan sertaan
sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita dan ini terasa pada
bagian awal cerita.
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan
ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang,
menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke
pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali
pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan
tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa
setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak
ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis
mendung menggantung.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Sang Pengembara karya Antoni ini, memang sebuah cerpen
yang menarik dan menggugah hati pembacanya. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur
intrinsik pada cerpennya tersebet. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.
Unsur-unsur Intrinsik
a. Tema
Tema cerpen ini yaitu tentang perjalan seorang yang
cinta dan setia pada keluarga
b. Amanat
Amanat cerpen ini adalah :
1) jangan cepat marah kalau kalau ada masalah dalam
keluarga atau dalam berhubungan,
2) jangan menyia-nyiakan yang kamu miliki, dan
3) jangan egois.
c. Latar
Latar yang ada dalam cerpen ini adalah latar tempat
dan latar waktu
d. Alur
Alur cerpen ini adalah maju mundur karena ceritanya
mengisahkan kehidupannya mendatang dan kisahnya dimasa lalu. Sedangkan
strukturnya berupa bagian awal, tengah, dan akhir. Adapun alur mundurnya mulai
muncul di tengah-tengah cerita.
e. Penokohan
Tokoh dalam cerpen ini ada dua orang, yaitu tokoh Aku,
dan si istri.
1) Tokoh Aku berwatak selalu sabar dalam menghadapi
sesuatu pada rumah tangganya
2) Istri memiliki watak yang susah yang yang sama
seperti tokoh utama namun susah untuk diterka.
f. Titik
Pengisahan
Titik pengisahan cerpen ini yaitu pengarang berperan
sebagai tokoh utama (akuan sertaan) sebab secara langsung pengarang terlibat di
dalam cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si
kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku.
2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat
disampaikan yaitu sebagaimana yang diceritaka pada cerpen ini, selagi kita
mampu bersabar dalam menjalani kerasnya hidup dalam rumah tangga, atau dalam
berpacara kita harus tetap bersabar dan hindari yang namanya permusuhan apalagi
perceraian
Cerpen Sang
Pengembara
Karya
: Antoni
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan
ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang,
menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke
pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali
pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan
tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa
setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak
ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis
mendung menggantung.
“Ini pernikahan resmi kan, Ma?” tanyaku kepada ibu
mertuaku, setelah semua tamu keluar dari dalam rumah mertuaku.
“Resmi…!” Alis matanya agak menaik. “Ada naib dan
petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?”
“Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…,” jawabku. Aku
memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik
memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada
yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil.
Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah
limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah.
Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.
Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang
meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali
menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin
melihatku bahagia.
Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang
kering, bersirobok masuk dari pintu depan. “Aku mengalami kebahagiaan hanya
pada saat berdoa saja, Bu…,” gumamku dalam batin.
Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia.
Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti
mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu
dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh
kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.
Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari
apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan
sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya
dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun
oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam
bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu,
seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga
kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu.
Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke
Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.
Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat
membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas
untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku
tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang
meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.
Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi
membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan
angker. Kubuat galeri kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat
dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom
Bali, aku memutuskan mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.
Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya
rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis
kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang
didera penderitaan hidup berkepanjangan.
Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu
mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang
peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku
pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.
Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak
sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek
perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih
tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya.
Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana
lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua
tahun lalu, sepulang dari Makassar.
Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja.
Kebahagiaan terpancar di wajahnya. “Mau ngopi lagi, Mas?” tanyanya. Aku
menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi
dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah
diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang
lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu
meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula
aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada
umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang
disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang
aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum
bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di
atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa,
aku sampaikan permohonan keramatku itu. “Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh
istri dan sebuah keluarga,” begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala
sesuatunya secepat kilat.
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya
sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu
kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja,
di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya
berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun,
dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: “Kalau mau sama aku, harus serius…,”
katanya.
Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun
mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari
setelah malam “bertabur bintang” itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat
undangan dan wedding taart.
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah.
Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil,
landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di
ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok
sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa
bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah
dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. “Liya gitu loh….,” katanya menegaskan
bahwa Liya beda dengan Lia.
Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi
berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda,
berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
“Aku pengin punya anak 9,” kataku.
“Dua saja….Capek,” jawabnya sambil menepuki perutnya.
Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala
untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada
garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di
cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu
merindukan setiap menitnya.
Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur
lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku.
Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya
berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh.
Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah
paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan
pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api.
Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita
sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
“Aku ingin sendiri,” katanya pelan, tapi kurasakan
seperti halilintar.
Menggelegar.
“Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba
hati-hati,” kataku
mengingatkan.
“Hasyaahhhh…..” Mukanya jadi cemberut dan bibirnya
jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah,
kuakui, dia tetap saja menggemaskan.
Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun
berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele
sampai besar. “Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku
juga bukan yang itu, shamponya yang ini…..” Mimik mukanya agak berkerut-kerut,
ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.
Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan
hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di
hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan
perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa
harus begitu tergesa-gesa menikah?
“Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama
ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah,” katanya ketika itu.
Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita
yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika
pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah
ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran
baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka
hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus
dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur
sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya
lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas
seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
“Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang
pengantin,” kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah
terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun
meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia
berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi,
memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam.
Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
“Aku suamimu bukan?” tanyaku pelan, sambil kusodorkan
tangan kananku.
Ia pun menciumnya. “Nanti dijemput jam berapa?”
tanyaku lagi.
“Jam empat sore. Mundur satu jam,” jawabnya, sambil
bergegas turun.
Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda
sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal
sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami
tempati.
“Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar
jemput lagi,” ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku.
Tampak jengkel.
Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti
permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata
tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari.
Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor
hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.
“Ini hanya sementara…,” katanya ketika aku nekat
menemuinya, di siang yang terik. “Sementara…,” itulah kata-kata yang aku
jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha
meyakini janjinya itu.
Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa
kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani
kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara.
Akulah, pengembara itu!
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan
orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di
pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku
dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati.
Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku,
mengikutiku berdoa.
“Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku
memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?” gumamku ketika aku
datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete
mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak
mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
“Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama
Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!” begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu
lalu. ***
DAFTAR PUSTAKA`
Badudu, J.S. 1979. Sari
Kesusasteraan Indonesia Jilid 2. Bandung: Pustaka Prima.
Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Esten, Mursal. 1984. Kesusastraan: Pengantar teori dan
sejarah. Bandung: Angkasa.
Koentjaraningrat. 1997. Metode-metode Penelitian
Masyarakat, edisi ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Prima.
Rosenthall. 1958. Unsur Unsur Intrinsik Sastra.
Bandung: Pustaka Prima.
Sayuti, Suminto A.2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi.
Jogjakarta: Gama Media.
Suroto.1989. Teori dan Pembimbingan Apresiasi Sastra
Indonesia untuk SMU. Jakarta : Erlangga.
Tarigan, Henri Guntur.1993. Prinsip-prinsip Dasar
Sastra. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar